Kau seorang tua berwatak hiba, Istanbul, saat menjemputku menjinakkan kunjungan ke kota atma yang dilumuri kenangan.
Katakau, kita adalah sahabat batini dan ruhi, jua keakraban tauhid dan rabbani. Lalu sesudah Subuh di Sultanahmet, kauhidangkan segelas cinta Uthmaniyah. Sungguh, tak terhirup manisnya sejarah yang terbancuh antara keras Theodosius dan ramah segaris Bosphorus.
Di situ kau masih seorang tua berwatak piatu, Istanbul. Saat merangkul Hagia Sofia kutahu ada ketar yang membengkak di dada itu. Sudah terlalu lama kau menghirup pedihnya aroma sekular yang meracuni camar-camar Eminonu juga iklim materi yang terlalu keras untuk masjid-masjidmu. Telahpun tenat segala angin dan rumput, juga batu dan manusia terhunus sebilah sihir Attaturk yang buas mengoyakkan roh tawaduk.
Seperti kau, aku juga perindu yang tegar menunggu kekasih masa lalu; seorang Al Fateh yang menyalakan matahari di tanah khazanah juga meranumkan ibadah di kebun Eropah. Betapa luka generasi yang tertanam di dalam doa panjangmu menitis darahnya ke pakaian kalbuku.
Dan fajar itu di pinggir Marmara kusegarkan sebenih doa paling hijau zaman yang menyirami biar bertumbuh generasi dengan degup Kavakci.
Mari Istanbul, hari masih pagi. Sama-sama kita nanti tibanya angin revolusi.