LondonBrand Essence & Shared Values. Itu lah things to bring home from briefing di London. Kali ini di Porchester Hall. Agak posh seperti namanya. Makan pun sedap. Orang Nahar yang hidangkan...
"Laaaa... delay lagi... Ryan Air ni satu la..."
"Ha ha... tahun lepas pun macam nih..."
Kami tiba lambat - Ryan Air ada delay. To my amazement, it was actually the same flight as last year's. A bit disappointed, but nak buat macam mana, dah ditakdirkan Allah lambat. Ada baiknya, manalah tahu, kalau terbang juga, terhempas pula. Lain ceritanya nanti sebab penulis sudah tiada lagi.
Alhamdulillah tiba juga kami akhirnya di Porchester Hall. Buat grand entrance! - masuk lambat, duduk row paling depan sekali. Elok sangat lah tu.
Hmmm... it is good to see that our sponsor is performing really well (meaning that they're expecting the same from us!). Currently they're embarking the business in Egypt and Sudan. The smell of the money (oil to be exact) is so strong to the extent that if we invest one, we will get ten in return! Isn't that great?
Then, semasa makan tengahhari, I got to meet seniors namely Nabil, Haidar, Faidz, Nasri, and yes, newbies too. Amin from Cork dapat jumpa juga. Hmmm... it seems that loads of newbies tahun ini. Meriah. The more the merrier. Apa impaknya pada mereka? Menurut Abang Hamizan - "Mereka nanti tak kenal seniors, orang tua as they duduk sama-sama...".
Well, maybe it is just a myth. Really? Don't ask for the answer, please.
London IIAlhamdulillah Munzir is still alive, and currently reading Civil Engineering at Imperial College. Now I can say that I have a dedicated hostel in London. Phew! travelling around London has never been so easy! Jazakallahukhairan!
Semasa perjalanan ke Chinatown, terpisah dengan Ghani & Nabil semasa bersesak-sesak di dalam Tube. Satu hal sungguh. Kesal juga sebab tak switch on roaming, sebab terpisah terus. Akhirnya, aku terus ke Edgeware Road, dapatlah bertemu seorang sahabat - Munzir.
Alih-alih, dapatlah jumpa balik di Picadilly Station.
Di London, Edgeware Road cukup dikenal ramai. Seperti kembar tua Curry Mile di Manchester, sepanjang jalan tersusun kedai-kedai Pak Arab serta Pakistan/India. Boleh kata seiras Masjid India.
Kedatangan imigran dari Arab, dan Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka) ke UK adalah seawal kurun ke 19 atas hubungan perdagangan. Merekalah yang menjadi asas bagi tersebarnya Islam di UK secara menyeluruh. Ya, merekalah daie, tukang kedai, dan bermacam lagi. Dari sinilah terbinanya masjid-masjid, yang cukup berjasa kepada kita.
Imigran dari Malaysia turut serta menjadikan UK lebih 'rancak', walaupun dengan stail yang berbeza. Mereka datang seawal 60an secara gerombolan. Majoritinya adalah pelajar - mereka hanya di sini untuk 3-4 tahun sahaja.rrrrrrrrrr
Kali ini, tak sempat nak ke muzium atau tempat-tempat menarik di London. Imperial War Museum, Madame Toussaoud, dan banyak lagi yang belum dilawati. Lain kali sajalah...
Hmmm... Chester Beatty di sini pun masih belum dijejaki lagi.
ManchesterPerjalanan 9 jam dari Dublin ke sini dirasakan singkat... sebab selalu tertidur sepanjang perjalanan. Di dalam feri, masa diluangkan dengan membaca Sekuntum Kembang Di Sayap Jibril oleh SM Zakir. Mozo pula nyenyak diulit mimpi. Bermimpikan perjalanan Ibnu Battutah agaknya, yang mengembara sana-sini. Mungkin kami bakal menjejak langkahnya nanti. Asyik ralit menelaah cerpen, tidak pun sedar feri sudah pun berlabuh rupanya.
Alih-alih, sudah di Chorlton Street seawal 6.00 pagi rupanya. Naik teksi secara kumpulan dengan senior-senior Hmmm... kemudian ditumpangkan di Whitworth Park. Rasa guilty pula sebab pakai mouse tuan punya bilik...
IMAM Second Medical Symposium - Muslims & Medicine in a Globalised World. Itulah agenda kami kali ini. 2 hari lamanya. Hari ini dan esok.
Tiba di Manchester Royal Infirmary agak lewat, dek terlelap setelah bersarapan. Terus terdengar khabar ada rakan-rakan (Syafiq Ayman dan Ariff Fahmi) Dublin yang terlepas flight. Aiseh, sakit. Mereka tiba agak lambat sedikit. At least they made it in one piece.
The symposium went on. Then the DPM arrived and delivered an inspiring speech before he left. He sure have a tight schedule on his visit to UK. So many things to be done and yet so little time are given. Maybe.
Antara lecture yang cukup mendapat tempat di hati adalah mengenai Abul Qassim Az-Zahrawi - one of the greatest of all time (also known as Abulqasis) by Ibrahim Sheikh. He unfolded the life story of said Muslim surgeon and drew a picture of his achievements, or route to me follow on for that matter. Mabruk!