Feeling yellow?


//This is for the BERSIH...


//and this... hmmm... I don't know...

10 years before independence of malaya in dublin!
//Defintitely on my must-watch list!


//Last but not least, Dapur 218...

One day at a time

Alhamdulillah today I am fully recovered. No more heat, just sore throat. It will be gone in a few days. Right now, my voice is like somebody who had shouted all the way out when singing in a concert until the vocal cord snapped! Hmmm... who cares, I'm not Cat Stevens or Ramli Sarip...

Well, I just had a mouthful dinner with Omar Bhutta. A nice lad, and I hope that he will the next who's who in the community in near future. Insha Allah.

We had lengthy conversation, chiefly on local and world issues. Well, that's basically almost everything, isn't it? To be honest, it was just about how we should lead our life.

Wow, being alive is one thing. Living out of it is another. Agreeing is one thing. Agree to disagree? Wow that's kinda tough, though. Heh, seperti kata Ned Kelly yang masih teringat hingga sekarang - 'Such is life'. I guess I have to take it one day a time...

Hmmm... we're living in the times where ignorance is totally a bliss (also a bless?). The times where rhetorics are being understood as the truth. Why? Because we do not know how to be aware which one is which.

'You can't bargain with the truth, cause one day you gonna die, and goods going high... and evils going down, in the end...'

Hmmm... I need to get back to my Public Health project... because I think I see the light of it just now...

Yusuf Islam - I Think I See I The Light



I used to trust nobody, trusting even less their words,
Until I found somebody,
There was no one I preferred,
My heart was made of stone;
My eyes saw only misty grey,
Until you came into my life,
I saw everyone that way.

Until I found the one I needed at my side,
I think I would have been a blind man all my life.

I think I see the light -
I think I see the light,
I think I see the light

I used to walk alone, every step seemed the same.
This world was not my home,
So there was nothing much to gain.
Look up and see the clouds,
Look down and see the cold floor.
Until you came into my life,
I saw nothing, nothing more.
Until I found the one I needed at my side,
I think I would have been a blind man all my life.

I think I see the light -

I think I see the light, (shine, shine, shine!)
I think I see the light, (shine, shine, shine!)

I think I see the light,
So shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!

I think I see the light,
coming to me, coming through me,
Giving me a second sight.
So shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine!
shine, shine, shine! (think I see the light)
shine, shine, shine! (think I see the light)
shine, shine, shine! (think I see the light)

Keep on shining!

I think I see the light
I think I see the light
I think I see the light
I think I see the light

Few updates...

Semenjak dua menjak ini Dublin memang sejuk sampaikan ada yang jadi kurang sihat (termasuklah aku). Memang musim winter betullah...

Tarikh-tarikh exam sudah pun diumumkan di intranet. Seperti semester sudah, kita ada TOSCE (team OSCE), dan written exams. Nasib baik ada gap antara paper, kalau tak pancit jugalah. Apa-apapun, yang penting, semuanya akan berakhir pada 25 Januari nanti.

Pada waktu itu, (malah sekarang pun), fikiran dah melayang ke PMC sana... tapi buat masa ini berangan-angan ke Turki - Istanbul, Ankara, Urfa, Antalya, Konya, Ephesus, Antakya, Bursa, Kocaeli, Edirne...

Oh ya, kelmarin rumah saya menganjurkan rumah terbuka. Menu - Nasi Briyani + Kuah Dhal + Acar, Ayam Panggang Coriander, Chicken Wings, Agar-agar dan Cheesecake, untuk minum air Sarsaparila. Turnout? 250-ish, tapi mungkin kurang sedikit sebab secara purata tetamu makan 3-5 round... kerana terlampau sedapnya hidangan kami... heheh.

Kami mula masak pada tengah malam sebelumnya sampai pukul 3 lebih, kemudian berehat sampai subuh sebelum dapur kami sibuk sepanjang hari... nasib baik ketuhar itu tak rosak sebab sentiasa dinyalakan untuk panggang ayam...

Terima kasih kepada seluruh ahli 218... memang kaw kaw habis open house kali ini!

...

Weekend ini ada seminar mengenai Islam di Turki anjuran Malaysian Think Tank. Speaker? Mustafa Akyol - http://www.thewhitepath.com. Hmmm menarik juga, lagi pun aku pun nak turun ke sana...

Pada waktu malamnya pula, ada stand up comedy - Allah Made Me Funny. Hahahaha...

5 benda pada hujung minggu

1. Rumah terbuka Hari Raya Puasa - ada yang pergi ada yang tak terpergi... yang aku tak pergi jangan terasa pula ya?

2. Faham tentang "The Law of Diminishing Returns", sikit-sikit...

3. Baca tentang "Female Genital Herpes"

4. Ulangtahun 50 tahun Hartal Seluruh Tanah Melayu - terima kasih Asyhraff sebab ingatkan, aku hampir lupa daaa... penat-penat bookmark tapi lupa... kalau nak tengok silalah ke http://10tahun.blogspot.com



5. Aku teruja melihatkan Canon XM1 dan XM2... malangnya aku tidak punya cukup wang melainkan aku jual sebiji ginjal aku...

Selamat Hari Raya dari SCR Hospital


//Ahli-ahli 218 yang sangat ceria belaka. A bit overexposed...

Selamat Hari Raya Aidilfitri, Maaf Zahir dan Batin, dari kami warga South Circular Road Hospital kepada alumni sekalian... datanglah ke rumah terbuka kami - tarikh akan diumumkan nanti.

Dengan ingatan tulus ikhlas dari,
BDr. Abadi
Sky TV & Internet Unit
South Circular Road Hospital

postscriptum - BDr = bakal doktor

Wake me up when November ends

Wake me up when November ends - I'm going to Turkey in December, alone. Too bad I can't join with the other group, as their itinerary is a bit different : I'm be back for PUISI, they're not leaving until new year. Hmmm... this kinda reminds me of those days travelling with Syafiq, Buff, Fahmi, & Rosman...

Now, where's my Lonely Planet?

Sesejuk angin pagi di Beaumont

Berpagi-pagi ke Beaumont yang letak 1 jam dengan bas di kala musim sejuk yang berangin, kadang kala men'down'kan sungguh. Nasib baik sekarang tengah menelaah bab Renal, Endocrine, Genito-urinary dan Breast, sedikit sebanyak menariklah juga... namun seperti biasa, sering saja mataku terlelap di tengah-tengah kuliah... iskk... kalau tak puasa dah lama kunyah gula-gula Kopi-O!

Hmmm... 2-3 minggu ini agak penuh masa - kelas, kedatangan pelajar-pelajar baru, dan majlis Sambutan Pelajar Baru (SPB) pada hari Sabtu ini. Aku kini menumpang di rumah 218 yang semestinya meriah dengan muka-muka baru.

Oh ya, bulan Ramadan ini pula, adalah Ramadan terakhir aku di tempat orang. Masuk yang tahun ini, dah 6 kali. Maknanya 6 kali tidak beraya di kampung - sampai dah lali.

Sebut-sebut Ramadan, sekarang dah masuk 10 malam terakhir. Dublin Mosque dah buat qiam tiap-tiap malam, dan menghabiskan 3 juzuk.... yakni solat-solat sunat dari 2 hingga 5 pagi non-stop. Habis endurancelah, tapi aku tak pergi pun lagi. Tahun lepas adalah sikit-sikit... tapi aku cukup respek dengan seorang pakcik ini - Syed Azlan, tak pernah miss... memang pergh dot com!

postscriptum: Rasanya selepas SPB nanti, akan diupload komik yang aku buat. Saja memeriahkan... lagi pun software Comic Life & iPhoto bukan payah pun nak pakai. Bubuh saja gambar, kemudian letaklah ayat-ayat bunga sikit... siap!

Ramadan



Pantas sungguh masa berlalu... mungkin terlalu asyik memerhati dunia. Tak perasan dah habis satu pusingan rupanya...

Di kesempatan ini, ingin saya ucapkan selamat berpuasa, dan beramal ibadat. Semoga dengan kehadiran Ramadan, makin deras langkah kita meniti redha-Nya.

Arkib zaman dahulu kala

Ini arkib zaman dahulu kala...

Sila ke http://sufaat.blogspot.com

Jakarta oh Jakarta

“Iki… anak lanangnya bisa ngomong Jowo?”
“Aku orak iso ngomong Jowo…”

Tersengih ayah mendengar jawabanku apabila ditanya oleh Pakcik Samad sama ada aku fasih berbahasa Jawa atau tidak. Inilah dilemma seorang anak Jawa... darahnya 100% Jawa, tapi bahasanya... hmmm entah.

Jadi, 4 hari kelayu ayah ke Jakarta, untuk bertemu dengan sahabat lamanya sejak dari Batu Pahat High School, Pakcik Samad. Sama-sama Jawa. Supirnya pun Jawa. Jadi, semacam kelas intensif Jawa Halus jugalah adanya…

Masing-masing menceritakan jerih payahnya sewaktu di sekolah dahulu. Berjalan lebih dari 4 km sewaktu 9 tahun? Beres... Hasil berkat usaha dan doa, Pakcik Samad telah banyak berjasa di dunia akademik, dan akhirnya kini mengemudi dan mengajar di sebuah PT (Perusahaan Terhad)...

Sebagai pengenalan, di Indonesia, seboleh-bolehnya setiap rangkai kata (tempat, objek dsb.) yang ada akan diterbitkan kata singkatannya. Warung telefon – Wartel, Warung Kopi – Warkop, Telepon Selular – Ponsel, dan banyak lagi... heh menarik. Dan, banyak papan tanda yang menusuk hati, seperti yang di bawah:

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Jangan buang sampah merata-rata...

Hmmm… Jakarta, memang kota luar biasa. Yalah, 14 juta ramainya di sini. Bayangkan separuh penduduk Malaysia tinggal di Lembah Klang. Dek punyalah berketi laksa ramainya, macam-macam jenis manusia ada.

Yang kaya melarat ada – ini jenis lagak Benggali Putih hendaknya, jam tangannya saja ratusan juta rupiah, hinggalah yang fakir lagi miskin amat – hari-harinya menjadi joki kereta. Ini tidak seperti di tanah air, yang lebih ‘egalitarian’, di kampung saya, yang kerja upah berkebun pun dapat memiliki kereta, begitulah lebih kurangnya.

Apabila bila ditanyakan apa lainnya Jakarta dengan Kuala Lumpur, saya tersengih saja. Datang sini baru tahu...

Hari pertama di sini, berkesempatan menziarahi Monumen Nasional (Monas). Di situ terdapat Muzium Sejarah Nasional. Banyak mengenali tokoh-tokoh seperti Sukarnoe, Suhartoe, Pramoedya Ananta Toer, Jenderal Sudirman, Kartini, Serikat Muhamadiyah, itu belum masuk yang sezaman dengan Kesultanan Melayu Melaka.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Monumen Nasional (Monas), gagah berdiri di tengah-tengah Jakarta

Jakarta, atau Jayakarta, maknanya kota kemenangan, dan tempat ini dinamakan sebegitu dari Sunda Kelapa, setelah angkatan tentera pimpinan Fatahillah, mengalahkan tentera Sunda... kemudian Belanda menukar lagi namanya kepada Batavia sebelum kembali kepada Jakarta.

Setelah puas di Monas, singgah sebentar di Masjid Istiqlal, yang terbesar di Asia Tenggara. Berapa ramai jemaah yang boleh dimuatkan, rasanya mencecah 100,000… hmmm Indonesia has the largest Muslim population in the world – ramainya!

Ramainya itu membawa makmur – sifirnya… ramai orang, ramai ulama; ramai ulama, banyak persantren; banyak persantren, makin ramai... dan kitar itu berulang kembali. Nama Wali Songo, terkenal dengan mengembangkan Islam – wayang kulit pun dijadikan saluran, sememangnya sinonim dengan mana-mana Muslim di sini. Dan dikhabarkan, sebelum mereka sudah ada masyarakat Muslim, yang dibawa oleh pelayar-pelayar dari Cina.

Selepas makan malam, kami dibawa ke kompleks beli-belah untuk orang kaya melarat.Fuh! Kalah Suria KLCC, yang masyhur menjual barangan yang bagi kami, hanya untuk dilihat-lihat melalui kaca tingkap saja - harganya terlalu mahal! Di sini, terjumpa baju batik yang harganya puluhan juta rupiah... dalam ribu-ribu ringgit jugalah, malah ada yang mencecah puluhan ribu. Memang untuk orang kaya melarat!

Namun, tak sampai seratus meter dari situ, kelihatan seorang tua yang kais pagi makan pagi, kasi petang makan petang - pekerjaannya menjadi penumpang kereta, yakni mencukupkan korum di dalam mobil-mobil, kerana di Jakarta terdapat kawasan yang diwajibkan berkongsi kereta (car pool), mesti lebih 3 orang dalam satu-satu mobil... tsk tsk tsk.

Hari kedua saya ke Bandung, melihat gunung berapi Tangkuban Perahu. Namanya begitu kerana jika diamati dari Bandung, bentuknya seperti perahu/sampan yang diterbalikkan. Hawanya dingin bercampur bau belerang/sulfur/telur busuk. Hmmm... Kami mendengar penerangan berbayar dari jurupandu pemerintah yang boleh bertutur Indonesia, Jawa dan Belanda. Sepanjangan penerangan, terdapat penjaja yang membuntuti dari awal hingga akhir, memujuk agar dibeli barangan cenderamata yang dijual... Fuh! Macam-macam stail mengayat... nasib baik pria belaka...

Akhirnya saya beli juga cenderamata - rantai kunci dan pena. Wargh! Seratus ribu rupiah...

Hari ketiga, saya ke TMII - Taman Mini Indonesia Indah, dan ke Lubang Buaya, tempat berlakunya peristiwa berdarah Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (singkatannya G30S/PKI). TMII untuk lihat-lihat sepintas lalu seni dan budaya rakyat dari seluruh pelusuk Indonesia, dari Nanggroe Aceh Darussalam, hinggalah ke Irian Jaya. Unik semuanya...

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Acheh berperang dengan Belanda lebih 40 tahun lamanya, paling kental!

Di Lubang Buaya, sempat menonton diorama rampasan kuasa G30S/PKI. Suharto menjadi hero rakyat sewaktu itu, walaupun akhirnya beliau menjadi menguasai Indonesia selama 32 tahun, sebelum diturunkan secara paksa oleh rakyat yang berdemo. Itu pun, mahasiswa Trisakti perlu menjadi korban terlebih dahulu...

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Jika di Malaysia, Peristiwa Bukit Kepong. Di Indonesia, Lubang Buaya...

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Selepas G30S/PKI dipatahkan oleh Suharto, seluruh pelusuk Indonesia mengisytihar perang ke atas PKI...

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Antara yang terkenal dalam Masyumi... Pak Natsir

Pada malam terakhir, sempat juga menonton saluran Q-TV, di mana panel-panel yang terdiri dari cendiakawan berbicara mengenai pelbagai isu. Ada yang memuji dan ada yang mengkritik terang-terangan. Sewaktu zaman Suharto dahulu, si pengkritik akan lenyap keesokannya - dek diberkas polis malam itu juga. Di sini?

Keesokan harinya kami kembali ke LCCT... dengan bas terbang Air Asia. Jakarta, akan aku kembali ke sana suatu hari nanti... Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi...

Akhirul kalam, terima kasih kepada tuan rumah, Pakcik Samad, dan supir Katmiti atas layanan... ada rezeki kita bertemu lagi nanti.

Merdeka!

Malam 31 tempoh hari saya keluar dengan Milah@Halim, menikmati angin malam sepoi-sepoi bahasa... angin malam merdeka tambahan pula Syaaban, pastinya berbeza sedikit dari angin malam-malam yang lain.

Hmmm... Sesudah 50 tahun (menurut buku teks), syukur negara kita masih merdeka, namun apabila melihatkan gelagat anak-anak muda pasca 'countdown' tengah malam sudah, hmmm... risau.

Banyak pihak telah berjuang untuk kemerdekaan, dan yang sudah berjerih payah mengisi kemerdekaan - ini termasuklah rakyat Indonesia, India, Pakistan, Burma, Vietnam, Nepal dan lain-lain negara yang banyak membina bangunan...

...

Tahniah kepada En Faka & Kak Wan, dan Dr Khamizi & Dr Nadwah. Mereka sudah 'merdeka' dari zaman bujang...

Ini ada sedikit foto dari Walimah Dr Khamizi & Dr Nadwah:

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Meor dan Hafyz menjadi pemegang bunga manggar... ambil berkat sikit :-)

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Tersenyum pengantin lelaki diusik sewaktu di plaza tol yang pertama...

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
//Antara yang hadir...

3 walimah dan jalan-jalan di Singapura

Foto 3 walimah:

1. Haikal & Hidayah


//Pasukan Kompang Sri Tambak dari Bukit Katil


//Potong stim betullah pakcik jurukamera...


//Haikal & Hidayah bersama Cikgu Sulaiman, Kak Zu dan sekeluarga...


//Bersama rakan-rakan SMAPK. Ada yang dah berubah rupa... aku pun dah tak kenal...

2. Farid & Shuhaila


//Farid dan Shuhaila... dulu mereka berdua sama-sama menuntut di Perth

3. Reza & Marliana


//Reza dan Marliana dengan Nya'ie Suparni dan kaum kerabat keluarga sepupu ibu...


//Papan tanda iklan menarik di Changi Road, berhadapan dengan Masjid Kassim


//Masjid Kassim... siap ada Wisma Indah lagi...

Perjalanan ke Singapura dengan Senandung Malam memang membosankan. Taubat lahum saya nak ke sana lagi pada malam hari. Lain kali, lebih elok ke sana pada siang hari, sebab boleh lihat pemandangan... taklah gelap semata-mata...

Pagi-pagi lagi sudah tiba di Woodlands... sememangnya banyak lagi pokok-pokok... sejuk mata memandang. Semoga terus hijau bumi Singapura, walaupun tergolong dalam negara maju... di sini, pantang ada tanah kosong (juga berpokok-pokok), ada saja pembangunan yang tak terancang mendatang, walaupun tanah itu sekangkang kera - tapi masih boleh bina 3-4 biji banglo! Kok ye pun buatlah taman... inilah Malaysiaku yang cemerlang, gemilang dan terbilang...

Setibanya saya di Tanjong Pagar, terasa suasana kolonial - bangunan stesen yang lama (juga ada cat-cat yang terkupas), dan juga mural yang menggambarkan kegiatan ekonomi di Tanah Melayu dan Singapura... tidak lupa kedai mamak Hasan yang menambahkan lagi suasana pekan koboi...

Dengan menaiki MRT (dari Tanjong Pagar ke Paya Lebar), terus saya ke Pasar Geylang untuk bersarapan. Dapatlah juga makan Mi Goreng yang ditambah pewarna - ya amat pelik sekali... warnanya sedikit keoren-orenan, tapi pelik-pelik pun, lazat juga...

Setelah mengisi perut, sempat juga jalan keliling pasar, sebelum bergegas ke Tampines (banyak orang Tampin ke?), untuk walimah dua pupu saya. Pasukan kompangnya didatangkan khas dari Panji. Silat pun ada... memang meriah...

Petangnya, saya kembali ke Pasar Geylang - ya, untuk makan lagi. Ingatkan nak beli emping berlada, rupanya salah faham... terborong emping mentah. Laaaa, di kampung saya ada benda alah emping ini...

Hajat di hati ingin ke Wardah Books, atau paling kurang ke Masjid Aleem Siddique... tapi tersalah tren dan masjid pula. Maka bersolatlah saya di Masjid Kassim di Kembangan. Dapatlah juga lihat kedai Pustaka Nasional, dan menketedarah Maggie Goreng dan Roti Prata di kedai makan mamak seberang jalan sana. Aisemen. Tapi takpe, lain kali boleh ke Singapura lagi...

Malam itu juga saya bertolak pulang ke Kuala Lumpur dengan Senandung Malam. Jejaklah kaki saya di KL Sentral yang sesak (sebab banyak sangat gerai yang dibuka) pada pagi Isnin...