“Iki… anak lanangnya bisa ngomong Jowo?”
“Aku orak iso ngomong Jowo…”
Tersengih ayah mendengar jawabanku apabila ditanya oleh Pakcik Samad sama ada aku fasih berbahasa Jawa atau tidak. Inilah dilemma seorang anak Jawa... darahnya 100% Jawa, tapi bahasanya... hmmm entah.
Jadi, 4 hari kelayu ayah ke Jakarta, untuk bertemu dengan sahabat lamanya sejak dari Batu Pahat High School, Pakcik Samad. Sama-sama Jawa. Supirnya pun Jawa. Jadi, semacam kelas intensif Jawa Halus jugalah adanya…
Masing-masing menceritakan jerih payahnya sewaktu di sekolah dahulu. Berjalan lebih dari 4 km sewaktu 9 tahun? Beres... Hasil berkat usaha dan doa,
Pakcik Samad telah banyak berjasa di dunia akademik, dan akhirnya kini mengemudi dan mengajar di sebuah PT (Perusahaan Terhad)...
Sebagai pengenalan, di Indonesia, seboleh-bolehnya setiap rangkai kata (tempat, objek dsb.) yang ada akan diterbitkan kata singkatannya. Warung telefon – Wartel, Warung Kopi – Warkop, Telepon Selular – Ponsel, dan banyak lagi... heh menarik. Dan, banyak papan tanda yang menusuk hati, seperti yang di bawah:

//Jangan buang sampah merata-rata...
Hmmm… Jakarta, memang kota luar biasa. Yalah, 14 juta ramainya di sini. Bayangkan separuh penduduk Malaysia tinggal di Lembah Klang. Dek punyalah berketi laksa ramainya, macam-macam jenis manusia ada.
Yang kaya melarat ada – ini jenis lagak Benggali Putih hendaknya, jam tangannya saja ratusan juta rupiah, hinggalah yang fakir lagi miskin amat – hari-harinya menjadi joki kereta. Ini tidak seperti di tanah air, yang lebih ‘egalitarian’, di kampung saya, yang kerja upah berkebun pun dapat memiliki kereta, begitulah lebih kurangnya.
Apabila bila ditanyakan apa lainnya Jakarta dengan Kuala Lumpur, saya tersengih saja. Datang sini baru tahu...
Hari pertama di sini, berkesempatan menziarahi Monumen Nasional (Monas). Di situ terdapat Muzium Sejarah Nasional. Banyak mengenali tokoh-tokoh seperti Sukarnoe, Suhartoe, Pramoedya Ananta Toer, Jenderal Sudirman, Kartini, Serikat Muhamadiyah, itu belum masuk yang sezaman dengan Kesultanan Melayu Melaka.

//Monumen Nasional (Monas), gagah berdiri di tengah-tengah Jakarta
Jakarta, atau Jayakarta, maknanya kota kemenangan, dan tempat ini dinamakan sebegitu dari Sunda Kelapa, setelah angkatan tentera pimpinan Fatahillah, mengalahkan tentera Sunda... kemudian Belanda menukar lagi namanya kepada Batavia sebelum kembali kepada Jakarta.
Setelah puas di Monas, singgah sebentar di Masjid Istiqlal, yang terbesar di Asia Tenggara. Berapa ramai jemaah yang boleh dimuatkan, rasanya mencecah 100,000… hmmm Indonesia has the largest Muslim population in the world – ramainya!
Ramainya itu membawa makmur – sifirnya… ramai orang, ramai ulama; ramai ulama, banyak persantren; banyak persantren, makin ramai... dan kitar itu berulang kembali. Nama Wali Songo, terkenal dengan mengembangkan Islam – wayang kulit pun dijadikan saluran, sememangnya sinonim dengan mana-mana Muslim di sini. Dan dikhabarkan, sebelum mereka sudah ada masyarakat Muslim, yang dibawa oleh pelayar-pelayar dari Cina.
Selepas makan malam, kami dibawa ke kompleks beli-belah untuk orang kaya melarat.Fuh! Kalah Suria KLCC, yang masyhur menjual barangan yang bagi kami, hanya untuk dilihat-lihat melalui kaca tingkap saja - harganya terlalu mahal! Di sini, terjumpa baju batik yang harganya puluhan juta rupiah... dalam ribu-ribu ringgit jugalah, malah ada yang mencecah puluhan ribu. Memang untuk orang kaya melarat!
Namun, tak sampai seratus meter dari situ, kelihatan seorang tua yang kais pagi makan pagi, kasi petang makan petang - pekerjaannya menjadi penumpang kereta, yakni mencukupkan korum di dalam mobil-mobil, kerana di Jakarta terdapat kawasan yang diwajibkan berkongsi kereta (car pool), mesti lebih 3 orang dalam satu-satu mobil... tsk tsk tsk.
Hari kedua saya ke Bandung, melihat gunung berapi Tangkuban Perahu. Namanya begitu kerana jika diamati dari Bandung, bentuknya seperti perahu/sampan yang diterbalikkan. Hawanya dingin bercampur bau belerang/sulfur/telur busuk. Hmmm... Kami mendengar penerangan berbayar dari jurupandu pemerintah yang boleh bertutur Indonesia, Jawa dan Belanda. Sepanjangan penerangan, terdapat penjaja yang membuntuti dari awal hingga akhir, memujuk agar dibeli barangan cenderamata yang dijual... Fuh! Macam-macam stail mengayat... nasib baik pria belaka...
Akhirnya saya beli juga cenderamata - rantai kunci dan pena. Wargh! Seratus ribu rupiah...
Hari ketiga, saya ke TMII - Taman Mini Indonesia Indah, dan ke Lubang Buaya, tempat berlakunya peristiwa berdarah Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (singkatannya G30S/PKI). TMII untuk lihat-lihat sepintas lalu seni dan budaya rakyat dari seluruh pelusuk Indonesia, dari Nanggroe Aceh Darussalam, hinggalah ke Irian Jaya. Unik semuanya...

//Acheh berperang dengan Belanda lebih 40 tahun lamanya, paling kental!
Di Lubang Buaya, sempat menonton diorama rampasan kuasa G30S/PKI. Suharto menjadi hero rakyat sewaktu itu, walaupun akhirnya beliau menjadi menguasai Indonesia selama 32 tahun, sebelum diturunkan secara paksa oleh rakyat yang berdemo. Itu pun, mahasiswa Trisakti perlu menjadi korban terlebih dahulu...

//Jika di Malaysia, Peristiwa Bukit Kepong. Di Indonesia, Lubang Buaya...

//Selepas G30S/PKI dipatahkan oleh Suharto, seluruh pelusuk Indonesia mengisytihar perang ke atas PKI...

//Antara yang terkenal dalam Masyumi... Pak Natsir
Pada malam terakhir, sempat juga menonton saluran Q-TV, di mana panel-panel yang terdiri dari cendiakawan berbicara mengenai pelbagai isu. Ada yang memuji dan ada yang mengkritik terang-terangan. Sewaktu zaman Suharto dahulu, si pengkritik akan lenyap keesokannya - dek diberkas polis malam itu juga. Di sini?
Keesokan harinya kami kembali ke LCCT... dengan bas terbang Air Asia. Jakarta, akan aku kembali ke sana suatu hari nanti...
Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi...Akhirul kalam, terima kasih kepada tuan rumah, Pakcik Samad, dan supir Katmiti atas layanan... ada rezeki kita bertemu lagi nanti.